Masalah Kita Sebenarnya Sebagai Bangsa Indonesia

Indonesia, Bendera Indonesia
Ya Allah ya ngadim, Antal ngadim
Qod hamana hamun ngadim, wakulu amrin hamana yahun bismika ya ngadim.


Engkau ya Allah sungguh-sungguh maha besar, dan hanya engkau yang benar-benar maha besar.
Dan kami sekarang ini atau entah sampai kapan, sedang di timpa oleh masalah-masalah yang sangat besar. Akan tetapi sebesar apapun masalah-masalah yang menindih kami itu insaallah akan selesai, akan beres, akan meleleh. asalkan kami bergabung, melebur di dalam kasih sayangMu yang maha besar.

Masalah-masalah besar yang menimpa kita sebagai manusia, sebagai warga negara, sebagai rakyat Indonesia, sebagai kumpulan masyarakat tidak terletak:
  • Di toko-toko yang terbakar, 
  • Tidak terutama pada ratusan orang yang di bantai dan terusir keluar kampung halamannya, 
  • Tidak terutama pada bentrok terus menerus yang terjadi di berbagai tempat, 
  • Juga tidak terletak di pedang yang di acung-acungkan atau barangkali peluru yang di tembakkan. 
Masalah yang besar itu terutama sesungguhnya terletak:
  • Di dalam kepala dan dada kita sendiri, 
  • Terletak di dalam cara kita menyikapi hidup, 
  • Terletak di dalam pandangan kita mengenai manusia, mengenai nilai-nilai,
  • Terletak di dalam cara berfikir kita, di dalam moral kita dan di dalam ilmu kita yang banyak keliru dalam menata kebersamaan kehidupan sebagai sebuah bangsa.

Kalau anda menaruh tanaman kembang di dalam rumah, di dekat jendela. Anda perhatikan tanaman itu akan cenderung mengarah ke jendela, cenderung mencari sumber cahaya, jadi tanaman saja tahu bagaimana mencari sumber cahaya. Burung-burung di kutub dan di tempat-tempat lain pad amusim-musim tertentu dari tempat yang pada musim itu kurang mengandung makanan dan kesehatan baginya, mereka melintasi benua-benua untuk mencari tempat yang lebih menyehatkan dan menyejahterakan. Tanaman dan burung saja mengerti bagaimana berhijrah dari kegelapan menuju cahaya. Reformasi mestinya adalah hijrah dari kegelapan menuju cahaya. Hijrah dari hati yang beku kepada hati yang lembut lunak kepada saudara-saudaranya. Berhijrah dari pikiran yang tidak adil, menuju pikiran yang objektif, yang menyelamatkan semua orang berhijrah dari kedengkian menuju kasih sayang, berhijrah dari kebencian menuju cinta, berhijrah dari egoisme menuju kebersamaan, berhijrah dari ketidaktertataan menuju tatanan-tatanan, shof-shoft yang baik sebagai masyarakat, organisasi dan manajemen yang baik sebagai sebuah bangsa. Hijrah dari kegelapan menuju cahaya, itulah yang harus kita lakukan bersama-sama dan sendiri-sendiri berangkat dari ketulusan hati kita sendiri dan dari keadilan fikiran kita masing-masing.

Oleh : Emha Ainun Najib

Kalau ada uneg-uneg jangan sungkan-sungkan untuk menuliskan di form komentar.

Lebih baru Lebih lama